Hubungan Manusia dengan Tuhan, Sesama, dan Alam

PENDAHULUAN

Kelebihan makhluk-makhluk hidup atas makhluk-makhluk mati adalah bahwa kegiatan makhluk hidup didasarkan pada pengetahuan. Adapun manusia, ia memiliki kelebihan atas mereka, karena ia memiliki akal (kebijakan dan kecedersan).1 Perbuatan-perbuatan yang dilakukan manusia didasarkan pada pertimbangan baik dan buruk, manfaat dan mudharat baginya. Dia berbuat setelah meyakini bahwa perbuatan bermanfaat baginya. Dia mengikuti apa yang diketahuinya dan yang dinilainya mengandung kebaikan bagi dirinya, sehingga bila menurut akalnya bermanfaat dan tidak membahayakan, diputuskannya untuk melakukannya, dan bila dipandangnya membahayakan dan tidak bermanfaat baginya, diputuskannya untuk tidak melakukannya.2

Dalam makalah ini, Insya Allah akan dipaparkan ayat-ayat Al-Quran yang mengangkat topik mengenai hubungan manusia (sebagai makhluk berakal) dengan Tuhan, kemudian hubungan manusia dengan sesama, dan hubungan manusia terhadap alam semesta.

Kepada para pembaca, segala macam bentuk kritik dan saran yang tentunya bersifat membangun sangat diharapkan demi kelurusan pemahaman kita dalam menafsirkan ayat-ayat aqidah dengan topik yang sedang kami angkat ini.

 

PEMBAHASAN

  1. Tafsir Ayat-Ayat Aqidah mengenai Hubungan Manusia dan Allah swt.
  1. Manusia Sebagai Hamba

Sifat hubungan antara manusia dengan Allah SWT dalam ajaran Islam bersifat timbal-balik, yaitu bahwa manusia melakukan hubungan dengan Tuhan dan Tuhan juga melakukan hubungan dengan manusia. Tujuan hubungan manusia dengan Allah adalah dalam rangka pengabdian atau ibadah. Dengan kata lain, tugas manusia di dunia ini adalah beribadah, sebagaimana firman Allah swt dalam Al-Quran surat Adz-Dzariat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴿٥٦﴾

Artinya:

Dan tidak aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada ku.”

Secara garis besar, ibadah kepada Allah itu ada dua macam, yaitu ibadah yang bentuk dan tata caranya telah di tentukan oleh Allah swt, dan ibadah dan bentuk tata caranya yang tidak di tentukan oleh Allah swt. Ibadah jenis pertama adalah Mahdhoh, yaitu ibadah dalam arti ritual khusus, dan tidak bisa diubah-ubah sejak dulu hingga sekarang, misalnya sholat, puasa, dan haji: cara melakukan ruku’ dan sujud dan lafal-lafal apa saja yang harus dibaca dalam melakukan sholat telah ditentukan oleh Allah SWT.3 Demikian pula cara melakukan thawaf dan sa’i dalam haji beserta lafal bacaannya telah ditentukan oleh Allah SWT. Inti ibadah jenis ini sebenarnya adalah permohonan ampun dan mohan pertolongan dari Allah swt.

Jenis ibadah yang kedua disebut ibadah ghairu mahdoh atau ibadah dalam pengetahuan umum, yaitu segala bentuk perbuatan yang ditujukan untuk kemaslahatan, kesuksesan, dan keuntungan.

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Artinya:

Sesungguhnya salat itu pencegah perbuatan fahsya’ dan munkar.” (QS Al-Ankabut: 45)

Melalui ayat tersebut dapat diketahui bahwa ruh salat adalah ‘inna shalati wa-nusuki‘, salatku, ibadahku. Penyebutan salat dan nusuk dalam ayat tersebut bertujuan untuk membedakan bahwa salat itu adalah ibadah mahdhah, sementara nusuk adalah ibadah ghairu mahdhah. Para mufassir mengatakan kata nusuk tersebut diterjemahkan dengan insyithatu al-hayat, artinya segala aktivitas hidup kita. Contoh dari ibadah semacam ini adalah menyingkirkan duri dari jalan, membantu orang yang kesusahan, mendidik anak, berusaha, bekerja, menjenguk orang sakit, memaafkan dan sebagainya. Semua perbuatan tersebut, asalkan diniatkan karena Allah SWT dan bermanfaat bagi kepentingan umum, adalah pengabdian atau ibadah kepada Allah SWT.4

Jika inti hubungan manusia dengan Allah adalah pengabdian atau ibadah, maka inti hubungan Tuhan dengan manusia adalah aturan, yaitu perintah dan larangan. Manusia diperintahkan berbuat menurut aturan yang telah ditetapkan Allah. Jika manusia menyimpang dari aturan itu, maka ia akan tercela, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Aturan itupun ada dua macam, pertama aturan yang dituangkan dalam bentuk hukum-hukum alam (sunnatullah) dan aturan yang dituangkan dalam kitab suci Al-Quran dan hadis Nabi Muhammad saw.

Aturan yang dituangkan dalam kitab suci Al-Quran dan hadis Nabi, misalnya tentang perintah sholat, perintah zakat, perintah puasa, perintah haji, larangan berzina, larangan mencuri, larangan meminum arak, larangan memakan daging babi, dan lain-lain. Dalam hal ini, manusia diperintahkan menaati segala perintah dan menjauhi segala larangan. Adapun aturan yang dituangkan dalam hukum alam adalah, misalnya, api itu bersifat membakar. Oleh karena itu, jika orang mau selamat, maka ia harus menjauhkan dirinya dari api. Sebagai contoh lain, benda yang berat jenisnya lebih berat dari air akan tenggelam dalam air. Dengan demikian, manusia akan celaka (tenggelam) jika masuk ke dalam air laut tanpa pelampung, sebab berat jenisnya lebih berat dari air. Demikianlah aturan yang dituangkan dalam kitab suci (āyah qur’āniyah) dan yang dituangkan dalam hukum alam (āyah kawniyah). Keduanya harus dipatuhi agar orang dapat hidup selamat dan sejahtera, baik di dunia maupun di akhirat.

Begitulah prinsip dasar ajaran Islam mengenai hubungan manusia dengan Tuhannya. Intinya adalah pengabdian dan penyembahan kepada Allah (ibadah). Berpegang teguh pada tali agama Allah, lebih tepatnya menyelamatkan diri dari kemunafikan. Memegang tali agama Allah berarti kesetiaan melaksanakan semua ajaran agama dan mendakwahkannya. Selalu meningkatkan amal saleh, mengikatkan hati kepada Allah, serta ikhlas dalam beribadah.5

  1. Hubungan Manusia dengan Sesama

Pada hakikatnya, tidak ada manusia yang dapat hidup sendiri tanpa berhubungan dengan orang lain. Manusia memiliki naluri untuk hidup berkelompok dan berinteraksi dengan orang lain.6 Karena pada dasarnya, setiap manusia memiliki kemampuan dasar yang berbeda-beda dan memiliki ciri khas tersendiri yang dapat dijadikan sebagai alat tukar menukar pemenuhan kebutuhan hidup.

Menurut kodratnya manusia adalah makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat, selain itu juga diberikan yang berupa akal pikiran yang berkembang serta dapat dikembangkan. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat dalam kehidupannya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia.

Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya.

Selain itu, manusia diciptakan dari berbagai karakteristik, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal satu sama lain.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ﴿١٣﴾

Artinya:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujurat: 13)

Selain saling mengenal, manusia juga sangat dianjurkan agar dapat menjalin hubungan yang baik antar sesamanya. Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran, surah Al-Hujurat ayat 10-12:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ﴿١٠﴾

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ﴿١١﴾

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ﴿١٢﴾

Artinya:

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Dalam menjalin hubungan baik sesama manusia, hendaknya sikap hormat-menghormati tidak dilupakan. Mengenai hal ini, Allah sudah memperingatkan dalam surah An-Nisa ayat 86:7

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا﴿٨٦﴾

Artinya:

Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.”

Sebagai makhluk sosial, manusia dapat saling berinteraksi menjalin hubungan yang baik saling menghormati dengan sesama, berkasih sayang sebagai fitrah diri manusia.

Interaksi manusia akan menghasilkan bentuk masyarakat yang luas. Alquran, sebagai kitab suci umat Islam, memberikan petunjuk mengenai ciri-ciri dan kualitas suatu masyarakat yang baik, wwalaupun semua itu memerlukan upaya penafsiran dan pengembangan pemikiran. Di samping itu Alquran juga memerintahkan kepada umat manusia untuk memikirkan pembentukan suatu masyarakat dengan kualitas-kualitas tertentu. Dengan begitu, menjadi sangat mungkin bagi umat Islam untuk membuat suatu gambaran masyarakat ideal berdasarkan petunjuk Alquran.

Ada beberapa istilah yang digunakan dalam Alquran menunjuk arti masyarakat ideal, antara lain: Ummatun Wâhidah, Ummatun Wasathan, Khairu Ummah, Baldatun Thoyyibatun, Ummatun Muqtashidah. Berikut penjelasannya:

 

  • Ummatun Wâhidah

Bahwa pada mulanya manusia itu adalah satu umat, ditegaskan dalam surah Al-Baqarah: 213.

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۖ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ ۗ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ﴿٢١٣﴾

Artinya:

Manusia sejak dahulu adalah umat yang satu, selanjutnya Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan diantara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka kitab itu, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena keinginan yang tidak wajar (dengki) antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendakNya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus.”

Dalam ayat ini secara tegas dikatakan bahwa manusia dari dahulu hingga kini merupakan satu umat. Allah Swt menciptakan mereka sebagai makhluk sosial yang saling berkaitan dan saling membutuhkan. Mereka sejak dahulu hingga kini baru dapat hidup jika bantu membantu sebagai satu umat, yakni kelompok yang memiliki persamaan dan keterikatan. Karena kodrat mereka demikian, tentu saja mereka harus berbeda-beda dalam profesi dan kecenderungan. Ini karena kepentingan mereka banyak, sehingga dengan perbedaan tersebut masing-masing dapat memenuhi kebutuhannya.

  • Ummatun Wasathan

Istilah lain yang juga mengandung makna masyarakat ideal adalah Ummatun Wasathan. Istilah ini antara lain tertuang dalam firman Allah Q.S. al-Baqarah: 143

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ﴿١٤٣﴾

Artinya:

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa kualifikasi umat yang baik adalah ummatun wasathan. Kata wasathan terdiri dari huruf wau, sîn dan tha’ yang bermakna dasar pertengahan atau moderat yang memang menunjuk pada pengertian adil. Al-Râghib mengartikan sebagai sesuatu yang berada di pertengahan yang kedua ujungnya pada posisi sama. Posisi prtengahan menjadikan anggota masyarakat tersebut tidak memihak ke kiri dan ke kanan, yang dapat mengantar manusia berlaku adil. Posisi itu jugamenjadikannya dapat menyaksikan siapapun dan dimanapun. Allah menjadikan umat Islam pada posisi pertengahan agar menjadi saksi atas perbuatan manusia yakni umat yang lain.

  • Ummatun Muqtashidah

Ungkapan ummatun muqtashidah terulang hanya sekali dalam Al-Quran yaitu dalam surah Al-Maidah: 66

وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ ۚ مِنْهُمْ أُمَّةٌ مُقْتَصِدَةٌ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ سَاءَ مَا يَعْمَلُونَ﴿٦٦﴾

Artinya:

Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Diantara mereka ada golongan yang pertengahan[. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.”

Makna kelompok pertengahan (ummatun muqtashidah) dalam ayat di atas adalah segolongan kelompok yang berlaku pertengahan dalam melakukan agamanya, tidak berlebihan juga tidak melalaikan.

  • Khairu Ummah

Istilah khairu Ummah berrti umat terbaik atau umat unggul atau masyarakat ideal hanya sekali saja disebutkan diantara 64 kata ummah dalam Al-Quran yakni dalam surah Ali Imran: 110.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ﴿١١٠﴾

Artinya:

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Dalam ayat tersebut, dijelaskan kriteria-kriteria Khairu Ummah, yaitu menyuruh kepada ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.

  • Baldatun Thoyyibah

Istilah ini tertuang dalam surah Saba’:15.

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ﴿١٥﴾

Artinya:

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.”

Baldatun Thoyyibah berarti mengacu kepada tepat, bukan kepada kumpuln orang. Namun, Ali Nurdin, dalam bukunya Menelusuri Masyarakat Ideal dalam Alquran memasukkan ungkapan tersebut dalam istilah masyarakat ideal dengan faktor kebahasaan sebagai salah satu pertimbangan utama.

Alquran tidak menyatakan secara tegas tentang kriteria dan ambaran dari negeri yang baik (baldah thoyyibah), untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap, kita bisa melihat kepada sejarah kerajaan Saba’. Poin-poin penting yang menyebabkan Saba’ disebut sebagai negeri yang baik, disamping faktor geografis (adanya bendungan ‘Arim) adalah, merakyatnya sikap musyawarah dan anti kekerasan.8

  1. Hubungan Manusia dengan Alam

  1. Alam diciptakan untuk Manusia

Manusia dapat hidup di bumi karena Allah telah menetapkan keadaan bumi yang ada pada posisi sekarang. Pemikiran yang murni yang berdasarkan kenyataan dan tanpa prasangka dapat dengan mudah memahami alam semesta diciptakan dan dikendalikan oleh Allah yang semuanya diperuntukkan pada manusia.9

Untuk memperoleh informasi lebih jauh mengenai penciptaan alam, berikut akan dikemukakan beberapa ayat Al-Quran:10

  1. Surah Shad ayat 27:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ﴿٢٧﴾

 

Artinya:

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.”

  1. Surah Yâsin

وَإِنْ نَشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيخَ لَهُمْ وَلَا هُمْ يُنْقَذُونَ﴿٤٣﴾

Artinya:

Dan Kami ciptakan untuk mereka (apa) yang mereka kendarai seperti bahtera itu.”

  1. Surah Ad-Dukhân ayat 38.

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ﴿٣٨﴾

Artinya:

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main.”

  1. Surah An-Nahl ayat 5 dan 81.

وَالْأَنْعَامَ خَلَقَهَا ۗ لَكُمْ فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَافِعُ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ﴿٥﴾

Artinya:

Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan.”

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِمَّا خَلَقَ ظِلَالًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْجِبَالِ أَكْنَانًا وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُمْ بَأْسَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ﴿٨١﴾

Artinya:

Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).”

  1. Manusia sebagai Khalifah

Manusia dilahirkan ke dunia hanya membawa diri,tanpa bekal harta. Tidak bisa apa pun kecuali sedikit hal. Namun Allah memelihara dan merawat kita dengan menurunkan kasih sayang-Nya melalui orang lain. Kita memerlukan orang lain. Lalu bagaimana kita bisa melaksanakan tugas besar kita? Allah membekali kita dengan otak (akal pikiran dan nafsu). Itulah bekal terbesar kita. Dengan adanya bekal tersebut, manusia dapat menciptakan budaya, dimana budaya manusia terus berevolusi menuju budaya yang semakin maju dan kompleks.11

Berulang kali di dalam Al Qur’an Allah memerintahkan kita untuk berpikir. Dengannya kita menjadi makhluk yang sempurna. Otak manusia memiliki kapasitas yang luar biasa, terbatas namun batasnya tidak diketahui. Einstein sang ilmuwan saja baru menggunakan sebagian kecil dari kemampuan otak yang sebenarnya. Dengan adanya akal pikiran ini manusia bisa memilih tindakan yang tepat bagi kehidupannya. Tindakan yang tepat ini tidak terlepas dari nilai-nilai agama, sehingga akal dan nafsu kita terarah dengan benar dan menjadikan kita sebagai orang sukses. Jika itu sudah kita lakukan maka kita benar-benar mencapai derajat yang tinggi sesuai dengan tujuan penciptaan diri kita yang sebenarnya oleh Allah. Namun jika tidak, kita tidak bisa mencapai ‘kesempurnaan’ di dalam derajat kita yang sebenarnya. Derajat kita sangat rendah seperti setan atau lebih buruk dari binatang ternak.

Segala keperluan manusia di bumi ini telah disediakan oleh Allah, dan segalanya telah ditundukkan oleh Allah untuk kita. Apakah kita menganggap itu adalah sesuatu yang kecil? Semua itu adalah amanah yang besar untuk dikelola dan dipergunakan dengan baik. Setiap manusia adalah pemimpin, dan yang paling minim adalah memimpin diri sendiri. Bahkan, mengendalikan hawa nafsu termasuk jihad yang terbesar. Manusia memerlukan keseimbangan agar dengan adanya kelebihan berupa otak mereka tidak zalim dan sombong, dan dengan nafsu mereka tidak melampaui batas atau sewenang-wenang. Alam adalah kesatuan (sistem), bahkan tubuh kita saja merupakan suatu sistem. Jika ada satu anggota tubuh kita yang sakit maka seluruh tubuh akan sakit. Alam pun juga begitu, misalnya ada tetangga kita membuang sampah sembarangan di sungai dekat rumah, kita tidak mengingatkan maka kita juga akan kena dampaknya, seluruh rumah di sekitar sungai akan terendam banjir. Maka dari itu berusahalah untuk mencapai kesempurnaan hidup kita dengan berbuat yang terbaik di dalam segala hal sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah.

Manusia dipilih oleh Allah sebagai penduduk bumi, tiada lain adalah sebagai khalifah. Hal ini ditegaskan dalam surah Al-Baqarah ayat 30:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Artinya:

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)

Ibnu Katsir dalam interpretasi ayat di atas mengungkapkan bahwa kekhalifahan dan kepemimpinan adalah suatu kemuliaan besar yang Allah berikan kepada Adam a.s dan merupakan anugerah bagi keturunannya, khususnya disaat Allah memerintahkan malaikat-Nya untuk bersujud kepada Adam a.s.

Dengan demikian, maka dipahami bahwa kekhalifahan yang Allah berikan kepada manusia adalah suatu kemuliaan. Allah pun menorehkan sejarah kemuliaan yang diberikan-Nya ini dalam kitab suci yang diturunkan-Nya. Selain itu terdapat kemuliaan lain yang Allah berikan kepada manusia, yaitu sebagai berikut:

1. Allah telah memuliakan eksistensi manusia dari semua makhluk yang lain, baik itu secara struktur tubuh maupun psikologis. Sebagaimana yang telah tertuang dalam Alquran:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ﴿٤﴾

Artinya:

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tiin: 4)

2. Allah memuliakan manusia dengan memberikan kemampuan untuk menundukkan sumber daya alam yang ada di bumi dan memanfaatkan segala fasilitas yang ada di bumi dengan baik.

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً ۗ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ

 

Artinya:

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (QS. Lukman: 20)

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْأَنْهَارَ﴿٣٢﴾

وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ﴿٣٣﴾

Artinya:

Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (QS. Ibrahim: 32-33)

وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ﴿١٤﴾

Artinya:

Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 14)

3. Allah memuliakan manusia dengan kemampuan untuk menilai dirinya sendiri. Manusia pun dapat mangarahkan semua perilaku dan apa yang ia kerjakan. Dengan kemampuan inilah, manusia akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang telah ia lakukan selama hidupnya.12

يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ ۖ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُولَٰئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا﴿٧١﴾

وَمَنْ كَانَ فِي هَٰذِهِ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا﴿٧٢﴾

Artinya:

(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS. Al-Israa’: 71-72)

Dengan dijadikannya manusia sebagai khalifah, maka manusia hidup di bumi memiliki tugas dan amanah. Dimana menjadi khalifah merupakan bentuk pengabdian manusia kepada Allah. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan selalu beraktivitas yang berorientasi pada ibadah dan tentu salah satunya dengan cara memakmurkan bumi.

 

PENUTUP

Manusia adalah makhluk paling sempurna dibandingkan makhluk ciptaan Allah lainnya. Kesempurnaan tersebut dimiliki manusia karena manusia dianugerahi akal dan nafsu. Dengan dua unsur tersebut, maka akan terdapat beberapa identitas yang melekat pada diri manusia, di antaranya yaitu sebagai hamba (hubungan manusia dengan Allah), sebagai makhluk sosial (hubungan manusia dengan sesama), serta sebagai khalifah (hubungan manusia dengan alam.

Hubungan manusia dengan Allah, yaitu sebagai hamba, maka manusia wajib beribadah kepada Allah sepanjang hidupnya, karena semua yang dilakukan manusia akan dipertanggungjawabkan di kemudian hari. Dalam hal ini ibadah memiliki dua dimensi yaitu itu ibadah yang bersifat mahdhah (vertikal), maupun ibadah yang bersifat ghairu mahdhah (horizontal).

Selain sebagai makhluk individu yang diwajibkan menjalankan ibadah kepada Allah, manusia juga sebagai makhluk sosial. Dimana manusia hidup selalu membutuhkan orang lain. Manusia hidup bermasyarakat dan berinteraksi dengan orang lain. Dengan demikian, maka manusia haruslah memiliki akhlak yang baik, saling menolong dan menyayangi sesama manusia.

Demikian pula dengan alam, selain menjalin hubungan baik dengan Sang Pencipta dan sesama manusia, manusia juga memiliki amanah sebagai khalifah di bumi, dimana manusia diberi kemuliaan untuk mengelola dan memanfaatkan segala fasilitas yang ada di bumi, tentu dengan tidak mengabaikan kaidah-kaidah pemanfaatan sumber daya. Wallahu’alam.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. Psikologi Sosial. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002.

Anggota IKAPI. Antropologi Budaya. tt: PT Citra Aditya Bakti, 2002.

Baron, Robert A. dan Donn Bybne. Psikologi Sosial. Terj. Ratna Djuwita dkk. Ed. Wisnu C. Kristiaji dan Ratri Medya. Jakarta: Erlangga, 2003.

Budiaman, Arie, Ahmad Jauhar Arief, dan Edy Nasriady Sambas. Membaca Gerak Alam Semesta Mengenali Jejak Sang Pencipta. Ed. Nanik Supriyanti. Jakarta: Lipi Press, 2007.

Gea, Antonius Atoshoki, Noor Rachmat, dan Antonina Panca Yuni wulandari. Relasi dengan Tuhan. Jakarta: PT. Alex Media Komputindo, 2006.

Gerungan, W.A. Psikologi Sosial. Bandung: PT Refika Aditama, 2009.

Hadhiri, Choiruddin. Klasifikasi Kandungan Alquran. Jakarta: Gema Insani Press, 2005.

Jazuli, Ahzami samiun. kehidupan dalam Pandangan Alquran. Jakarta: Gema Insani Press, 2006.

Nurdin, Ali. Menelusuri Konsep Masyarakat Ideal dalam Alquran. TT: PT. Gelora Aksara Pratama, 2006.

Shaleh, Abdul Rahman dan Muhbib Abdul Wahab. Psikologi Suatu Pengantar dalam Persfektif Islam. Jakarta: Prenada Media, 2004.

Sholikhin, Muhammad. Hadirkan Allah Di Hatimu. Ed. Sukini. Solo: Tiga Serangkai, 2008.

Sarwono, Sarlito Wirawan. Psikologi sosial: psikologi kelompok dan psikologi terapan. Jakarta: PT. Balai Pusta, 1999.

Syihab, Dodi. Al-Quran Sandi Kecerdasan. Jakarta: Aldi Prima, 2010.

Thabathaba’I, M dan Abu Abdullah dan Az-Zanjani. Mengungkap Rahasia Al-Quran. Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2009.

Tim Penceramah Jakarta Islamic Cernter. Islam Rahmat bagi Alam Semesta. Jakarta: Afilia Books, 2005.

1Abdul Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar dalam Persfektif Islam (Jakarta: Prenada Media, 2004), 227-228.

2M. Thabathaba’I dan Abu Abdullah dan Az-Zanjani, Mengungkap Rahasia Al-Quran (Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2009), 157-158.

3Antonius Atoshoki Gea, Noor Rachmat, dan Antonina Panca Yuni wulandari, Relasi dengan Tuhan (Jakarta: PT. Alex Media Komputindo, 2006), 94-102.

4Tim Penceramah Jakarta Islamic Cernter, Islam Rahmat bagi Alam Semesta (Jakarta: Afilia Books, 2005), 140-142.

5Untuk mengetahui lebih lanjut tentang identitas pelaksanaan ibadah mahdhah lihat Muhammad Sholikhin, Hadirkan Allah Di Hatimu, Ed. Sukini (Solo: Tiga Serangkai, 2008), 118-122.

6Untuk lebih memahami tentang manusia sebagai makhluk sosial, lihat antara lain Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi sosial: psikologi kelompok dan psikologi terapan (Jakarta: PT. Balai Pusta, 1999), 4, Abu Ahmadi, Psikologi Sosial (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002), 95-96, dan W.A. Gerungan, Psikologi Sosial, (Bandung: PT Refika Aditama, 2009), 103, serta Robert A. Baron dan Donn Bybne, Psikologi Sosial, Terj. Ratna Djuwita dkk, Ed. Wisnu C. Kristiaji dan Ratri Medya (Jakarta: Erlangga, 2003), 177-187.

7Dodi Syihab, Al-Quran Sandi Kecerdasan (Jakarta: Aldi Prima, 2010), 70.

8Ali Nurdin, Menelusuri Konsep Masyarakat Ideal dalam Alquran (TT: PT. Gelora Aksara Pratama, 2006), 110-117.

9Arie Budiaman, Ahmad Jauhar Arief, dan Edy Nasriady Sambas, Membaca Gerak Alam Semesta Mengenali Jejak Sang Pencipta, Ed. Nanik Supriyanti (Jakarta: Lipi Press, 2007), 46-47.

10Lihat Choiruddin Hadhiri, Klasifikasi Kandungan Alquran (Jakarta: Gema Insani Press, 2005), 30.

11Untuk lebih mendalami tentang budaya manusia, lihat Anggota IKAPI, Antropologi Budaya (tt: PT Citra Aditya Bakti, 2002), 93-107.

12 Untuk mendapat keterangan lebih luas tentang hubungan penciptaan manusia dengan alam semesta, lihat Ahzami samiun Jazuli, kehidupan dalam Pandangan Alquran (Jakarta: Gema Insani Press, 2006), 47-55.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s